Alasan Kenapa Gaji Selalu Tak Pernah Cukup

  • Share

Siapa juga orangnya, pasti mengharapkan gaji yang besar. Sehingga dapat memenuhi keperluan dan pun semua keinginan. Namun apakah Anda pun pernah bahkan tidak jarang mendengar keluhan di sekeliling kita bahwa gaji yang diterima tiap bulan tidak pernah cukup, bahkan melulu pas guna membiayai keperluan pokok saja. Bahkan lebih ironis lagi saat sebagian orang yang punya kegiatan tetap tetapi masih mesti “nombok” alias berutang kiri-kanan guna memenuhi keperluan tak jarang terjadi. Padahal gaji pas-pasan sekalipun sejatinya tidak sepenuhnya benar guna dalih susah mencukupi keperluan pokok.

 

Terlebih lagi berpikir bahwa keperluan hidup lumayan sulit diisi selama melulu jadi karyawan. Sebab andai dipelajari lebih dalam dengan mengerjakan pengaturan finansial dengan baik, menjadi karyawan juga dapat kok untuk memblokir kebutuhan, dan dapat menabung dengan baik. Bahkan sebetulnya dengan penghasilan yang tetap itu, maka perencanaan finansial pun lebih gampang pengaturannya. Maka dari itu, usahakanlah untuk menghindari beberapa dalil yang menciptakan gaji terasa tidak jarang kali kurang, dan kenali penyebabnya. Berikut penyebab mengapa gaji bulanan Anda tidak jarang kali terasa kurang, di antaranya:

 

1. Gaya Hidup ‘Hedon’

Gaya hidup hedonisme memang identik dengan konsumtif. Perilaku yang suka menghambur-hamburkan duit alias boros ini tak lepas dari sifat konsumtifnya bakal segala urusan yang diinginkan, tanpa beranggapan panjang. Sikap konsumtif telah pasti berbeda dengan produktif. Maka berapapun dana yang ada, tidak bakal pernah lumayan bila anda mempunyai gaya hidup yang ‘hedon’ ini. Gaya hidup ini biasanya tidak menyimak mana yang prioritas dan mana yang tidak. Asal hendak mempunyai suatu barang atau sekedar mengekor tren yang ada, tanpa beranggapan panjang, semuanya dibeli.

 

Menghabiskan waktu masing-masing ada peluang untuk cuci mata di mall dan memanjakan diri dengan produk-produk yang sebetulnya tidak diperlukan akan menghabiskan cepat menguras isi kantong dengan cepat. Tahu kah Anda, wisata kuliner yang berlebihan tersebut pun sebenarnya pun gaya hidup ‘hedon’. Sebab harga jual makanan tersebut pun lazimnya tidak semurah bila kita melakukan pembelian bahan-bahan makanan guna memasak sendiri. Satu porsi guna sekali santap saja, harganya dapat puluhan ribu. Belum lagi di tempat-tempat yang dibilang prestisius.

  • Anggap saja harga Fish and Chip satu porsi Rp60.000
  • 1 Minggu : 7 porsi x Rp60.000 = Rp420.000
  • 1 Bulan : 30 porsi x Rp60.000 = Rp1.800.000
  • 1 Tahun : 365 porsi x Rp60.000 = Rp21.900.000

Ilustrasi itu melulu satu menu pokok saja. Belum lagi dengan ragam macam minuman dan makanan enteng lainnya yang rata-rata harganya pun relatif lumayan mahal. Jadi memburu dan menikmati kesukaan dari pelajaran sebagai destinasi utama dalam hidup ini ialah yang sebenarnya dapat membuat berapa juga gaji diterima bakal terasa tidak cukup terus. Jadi, bijaklah membelanjakan duit Anda dengan tidak melakukan pembelian barang yang tidak perlu. Jauhkan dari melulu sekedar ‘ingin’ saat pergi ke pusat perbelanjaan dan tempat-tempat kuliner.

 

2. Kebiasaan Merokok dan Minum Alkohol

Musuh kesatu dari sikap hidup hemat ialah gaya hidup anda sendiri. Salah satu gaya hidup orang yang sebetulnya buruk dan jelas dominan langsung untuk kesehatan ialah kebiasaan merokok. Setidaknya bila masih terus berkeinginan memelihara kelaziman merokok maka simaklah hitungan sebagai berikut :

  • 1 bungkus cerutu : Rp20.000
  • 1 Minggu : 7 bungkus x Rp20.000 = Rp140.000
  • 1 Bulan : 30 bungkus x Rp20.000 = Rp600.000
  • 1 Tahun : 365 bungkus cerutu x Rp20.000 = Rp7.300.000

Perhitungan ini ialah asumsi dasar bahwa dalam sehari, seorang perokok dapat menghabiskan satu bungkus rokok. Kelihatannya barangkali kecil namun pada dasarnya ini sama saja dengan 20 % dari gaji per bulan yang didapatkan, dengan asumsi gaji ialah Rp3.000.000 per bulan. Tentu kalkulasi ini terus meningkat bila jumlah bungkus cerutu yang dikuras lebih banyak. Ini melulu satu kelaziman buruk saja, bayangkan bila diperbanyak dengan kelaziman buruk lainnya. Begitu pun dengan kelaziman mengonsumsi minuman alkohol.

 

Tiga tahun terakhir Indonesia di kejutkan dengan adanya aplikasi/layanan pinjaman Uang  Online Cepat cair Anda hanya perlu menggunakan slip gaji dan proses cair nya pun lumayan cepat dibandingkan dengan megunakan layanan non online. Di samping dampaknya yang buruk untuk kesehatan yang ujung-ujungnya juga dapat menelan ongkos perawatan dan pengobatan bilamana mengidap sebuah penyakit dampak minuman ini, alkohol pun dikenal dengan harganya yang tidak semurah minuman ringan.

 

3. Tidak Bisa Membedakan Mana Irit dan Mana Yang Pelit

“Jangan sampai inginkan untung justeru buntung”, terdapat yang bilang demikian. Terkadang sikap demikan sering terjadi. Maksudnya hendak irit, malahan terkesan pelit yang ujung-ujungnya jadi rugi lebih banyak. Sebagai contoh ialah kasus parkir liar, sebab orang tak mau membayar lebih mahal guna parkir resmi. Kelihatannya memang murah, karena melulu 2000 sekali parkir, tapi bila dikalikan tentu dapat jadi besar. Ini melulu dari segi ongkos parkirnya, yang tidak kelihatan justru ialah risikonya, karena dapat jadi mobil terserempet kendaraan lain, tertabrak, dan yang lebih parah ialah hilang sebab dicuri.

 

4. Obsesi Mengejar ‘Obral’ dan Diskon

Hal beda yang pun perlu dikenali gemar menggali barang-barang yang diobral murah atau potongan harga dengan model diskon. Ini memang menyerahkan keuntungan bila barang yang sedang didiskon itu memang produk yang dibutuhkan. Namun kelaziman mengejar diskon ini pun tak tidak jarang kali baik. Sebab bakal mendorong untuk melakukan pembelian barang tersebut walau sebenarnya tidak diperlukan. Terlebih lagi bia menjadi tergiur untuk melakukan pembelian dengan jumlah yang banyak. Dan yang perlu diacuhkan lagi, bahwasannya harga-harga barang yang didiskon tersebut tidak tidak jarang kali benar-benar murah.

 

Tidak tidak banyak pula sebetulnya harga itu sudah ditingkatkan terlebih dahulu baru dibanderol dengan label diskon sekian persen, melulu untuk menarik kemauan konsumen guna membelinya. Bagaimanapun pun model diskon pun kerap sebagai strategi marketing saja. Memanfaatkan efek psikologis orang guna tidak tak mau membelanjakan uangnya. Jadi seksama dalam menyaksikan promo-promo paling penting supaya tak sebatas tergoda dengan promo semu yang ditawarkan. Sebab barang diskon dari cuci gudang terkadang jumlahnya terbatas, ada bisa jadi mendapatkan yang berbobot | berbobot | berkualitas rendah.

 

5. Tidak Paham Layanan Keuangan

Data dari World Bank menunjukan bahwa 49% masyarakat Indonesia masih belum tersentuh dan tidak memahami pentingnya layanan keuangan perbankan. Alasannya juga bermacam-macam, 79% menuliskan tidak mempunyai layanan perbankan, termasuk pun tentunya tabungan bank, dan sisanya mengatakan dalil lain-lain, tergolong tidak merasa mendapat guna dari menabung, tidak punya kegiatan tetap sampai-sampai perlu tabungan sebagai sarana pay roll dari bank dan sejenisnya. Ini pasti mengejutkan, sebab dengan demikian maka terdapat kemungkinan tidak sedikit masyarakat yang belum melek terhadap pentingnya layanan finansial.  Padahal mengetahui adanya layanan keuangan ini memberikan tidak sedikit manfaat sebagai pengelola finansial lebih baik.

 

6. Selalu Defisit

Defisit finansial terjadi saat pendapatan tidak sebesar pengeluaran. Peribahasa ‘besar pasak daripada tiang’ ini adalahbencana keuangan. Bagaimana tidak? Sebab penghasilan yang didapatkan setiap bulannya ternyata tidak dapat memenuhi keperluan pokok dan masih mesti menggali pinjaman sana-sini guna menutupnya. Gaji bulanan juga seolah melulu numpan lewat saja. Padahal keperluan untuk masa mendatang sangat urgen untuk dipersiapkan dari sebelumnya. Bagi itu arif menggunakan penghasilan dan seksama dalam membelanjaan paling penting diacuhkan bila tidak ingin melulu ‘gali lobang tutup lobang, pinjam duit tutup utang’.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.